Materi
khotbah
Ibadah : Keluarga
Tempat : Kel.Jimmy
Clause Pardede -GPIB Kasih Karunia Medan
Hari,tgl : Rabu, 17 Oktober 20182018
Jam : 20.00 WIB
Pelayan Fir. : Dkn.Agoes Pramono S Hadijanto
Thema
:
Suka Cita Memberi
Nats :
2 Korintus 8 : 10-15
Doa mohon
bimbingan Roh Kudus.
Bersama jemaatMu
dari gereja ini ya Bapa, kembali kami berkumpul untuk memuji dan memulaikan
nama-Mu. Sebentar lagi hambaMu akan
menyampaikan sebagian dari firmanMU. Kiranya Engkau hadir melalui roh kudusMu
ya Bapa, sehingga firman yg akan disampaikan mampu menjadi terang Kristus dalam kehidupan kami.
Hadirlah ditengah kami ya Bapa, karena
kami siap menerimaNya. Amin.
Bacaan Al
Kitab: 2
Korintus 8: 10-15
10.Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu.
Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil
keputusan untuk menyelesaikannya juga.
11. Maka sekarang,
selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan
kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
12. Sebab jika kamu rela
untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu
berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
13. Sebab kamu dibebani
bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada
keseimbangan.
14. Maka hendaklah
sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan
mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
15. Seperti ada tertulis:
"Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang
mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."
Ulasan Khotba
10.Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah
bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan
mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.
Rencana membantu umat
Kristen Yahudi di Yerusalem , tepatnya
di Yudea- sudah ada di tahun lalu tapi belum terlaksana.
Lihat surat Paulus
sebelumnya:
2 Korintus 1: 16
“Kemudian aku mau meneruskan perjalanan ke Makedonia lalu dari Makedonia
kembali lagi kepada kamu supaya kamu menolong aku dalam perjalananku ke Yudea.
Kenapa?
Ada masalah moralitas yang belum
selesai, masalah ketaatan atau kualitas rohani yg rendah)Perkantas Jatim-Yutube .
Keimanan
jemaat Korintus belum kenal TDA (tangan
di atas) istilah memberi lebih baik
daripada menerima, Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah.
Jemaat di korintus bukan orang susah seperti jemaat Makedonia tapi mereka tidak tergerak untuk
membantu . Paulus tahu bahwa ia kesulitan menggerakan jemaat Korintus untuk berbagi karena masalah kerohaniannya. Masalah kerohanian
bagaimana?
1.
Dalam
jemaat Korintus timbul keraguan terhadap Paulus karena beberapa hal.
2.
Pengaruh
nabi-nabi palsu yang mempertanyakan
kapasitas Paulus.
3.
Paulus
pernah menyampaikan ke jemaat Korintus bahwa dirinya tidak seperti yang lain
yang menjual firman Tuhan.Lihat 2
Korintus 2 :17 “Sebab kami tidak sama
dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya
dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni
atas perintah Allah dan dihadapanNya.”
4. Lihat juga 2
Korintus 4 : 2 “Tetapi kami menolak
segala perbuatan tersembunyi yang memalukan kami tidak berlaku licik dan tidak
memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan
demikian kami menyerahkan diri kami untuk mempertimbangkann oleh semua orang di
hadapan Allah.”
5.
Keadaan
Paulus yang miskin dan tidak pandai bicara di depan umum mempengaruhi tingkat
kepercayaan jemaat Korintus kpd Paulus.
Masalah kerohanian ini
yang digempur oleh Paulus melalui suratnya.Kalau bahasa sekarang:
menghimbau,memohon, meminta, setengah menghardik. Semakin tinggi tingkat
keimanan seseorang alias semakin rohani-semakin tidak kikir. Semakin beriman
semakin suka memberi. Jadi bukan semakin punya harta seseorang mau berbagi,
belum tentu. Biasanya kita cendrerung
berpikir jika aku sudah memiliki aku akan memberi. Inilah yang diingatkan
Paulus kepada jemaat di Korintus. Mereka
mampu dan -kayah, tapi tidak bersedia memberi.Paulus kembali mengingatkan jemaat
Korintus agar segera merealisasi sumbangan itu
Beberapa aspek alasan
Paulus mendesak agar jemaat Korintus mau membantu jemaat Yahudi di Yerusalem.
1.
Orang Yahudi-meskipun sudah memeluk Kristen-masih tetap
beranggapan sebagai orang terhebat dan memandang sebelah mata umat non Yahudi.
Kafir,buat mereka. Karena orang Yahudi merasa punya jasa rohani-sebagai orang
yang menerima firman Tuhan mula-mula-sebagai pelahir Kristus. Dianggap wajar
orang orang non Yahudi membalas hutang rohani itu. (Roma 15: 26-27)
2.
Selama ini muncul image
bahwa Paulus orang Yahudi yang
membela non Yahudi.Paulus punya kepentingan untuk menunjukan bahwa dia bukan
anti Yahudi.
3.
Sementara jemaat Makedonia yang lebih miskin dari
jemaat Korintus mau dan sudah
menyumbang. Mereka miskin bahkan sangat miskin namun mereka mau memberi
melebihi harapan. 2 Kor.8: 3 Aku bersaksi,
bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui
kemampuan mereka.
|
Apa yg terjadi dg Yerusalem sampai harus dibantu?
Ada bahaya
kelaparan besar yg melanda seluruh dunia.
(Lih.KIS 11: 28-29)
28. Seorang dari mereka yang bernama
Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan,bahwa seluruh dunia akan
ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman
Klaudius. 12. Lalu murid murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu
sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya
kepada suadara-saudara yang dia di Yudea.
|
11. Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu!
Hendaklah
pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang
ada padamu.
Dari sinilah Paulus
membongkar filosofi memberi bagi orang
Kristen. Memberi adalah tindakan berbagai yang dilandasi adanya “kasih
karunia”. Kata “kasih karunia” adalah kata yang paling sering disebut Paulus
sebagai landasan atau jiwa orang Kristen mau memberi persembahan. Inilah perpekstif keimanan dalam memberi. Memberi
adalah benar-benar bentuk pelayanan, memberi adalah implementasi persekutuan. Orang
mampu memberi karena ada “kasih karunia” yang bekerja dalam diri orang tsb. Karena kasih karunia ini menjadi motivator
seseorang untuk memberi. Pemberian dengan landasan kasih karunia adalah pemberian yang rela, ikhlas, tanpa pamrih-tanpa
maksud tertentu, tanpa SKB. Dan yang tidak kalah penting , lakukan sesuai
dengan kemampuan .Jika tidak punya tidak
perlu memaksa untuk memberi ( kecuali
cicilan bank, dan pajak). Jika punya
berilah seberapa kamu rela.
·
Paulus
menekankan kerelaan. Kerelaan melampau batas komitmen.
·
Sering
kita memberi karena komitmen, bukan
kerelaan.
·
Tuhan
melihat kemuliaan hati,bukan tangan kita.Yg dicatat Tuhan apa yg di dalam hati.
12. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan
diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan
berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
Berilah sesuai dengan yang kamu punya dengan landasan kerelaan.
Kerelaan jangan kalah dengan komitmen. Komitmen memberi janji iman Rp 100 ribu
padahal ia mampu memberi Rp 500
ribu.Dari sini terlihat bahwa kerelaannya kalah oleh komitmen.Ingat; Tuhan
mencatat yang ada di hati umatnya bukan yang ditangan umatnya. Engkau berpikir
bahwa seandainya aku punya lebih aku akan mememberi 1 juta, karena keadaan
kantong pas-pasan maka aku hanya memberi
100 ribu. Tuhan akan mencatat niatmu yang satu juta itu.
Dan jangan memberi dengan mengada ada seakan ada.
Berilah dengan apa yang engkau punyai. Jika tidak ada jangan engkau memaksa
diri untuk memberi karena Tuhan juga tidak ingin engkau sengsara karena
memberi.
13. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat
keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
Jika kita dibebani
untuk memberikan bantuan kepada yang tidak punya bukan bertujuan agar yang
diberi bantuan lantas menjadi kayah dan berlebih. Namun sekedar bisa hidup atau sekedar terbantu
dan menjadi seimbang kembali antara kebutuhan dan kemampuan. Jika yang dibantu
sudah merasa mendapat keseimbangan
diharap ia bisa mandiri dan tidak bergantung lagi dengan bantuan.
14. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan
mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada
keseimbangan.
Yang ditekankan Paulus
adalah terjadinya keseimbangan. Wajar jika kita berlebih hendaknya memberi yang
kekurangan agar yang kekurangan menjadi merasa cukup untuk melakukan sesuatu ,
agar kekurangan itu tidak berkelanjutan.
Dan jangan bertinggi
hati jika engkau memberikan sesuatu kepada yang kekurangan. Justru dengan
diterimanya pemberianmu maka engkau akan mendapat limpahan berkat. Derajatmu
pun akan ditinggikan.Pada saat kamu memberi
sesuatu disitu juga engkau langsung menerima sesuatu. Apa sesuatu itu?
Berkat, doa yang tulus, doa syukur dari penerima untuk orang yang memberi.
Disitulah terjadi keseimbangan.
15. Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak
kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."
Prinsip memberi di Kristen: orang yang mengumpulkan banyak
tidak kelebihan yang mengumpulkan sedikit
tidak kekurangan. Jika engkau mampu
mengumpulkan banyak harta , silahkan saja. Namun ingat ditengah kelebihanmu di
luar sana banyak yang tidak mampu mengumpulkan harta sebanyak kamu alias masih kekurangan. Berikanlah kelebihanmu kepadanya agar mereka
tidak kekurangan. Disitulah letak keseimbangan. Harta berlebih yang tidak didermakan ibarat air mengalir
melimpah di kehidupan . Air yang seharusnya berguna merata hanya mengalir mampet ke tempat kita sehingga menjadi kubangan. Kubangan air yang terjadi
justru membuat masalah, menjadi kubangan
yang bauh dan sumber penyakit.
Seharusnya air mengalir ke hidup kita di
pakai seperlu saja-dan biarkan yang lain mengalir ke ladang Tuhan lainnya yang
masih kekeringan.
Orang punya harta mau memberi, itu hal lumrah,sudah umum, biasa saja. Yang luar biasa adalah orang tidak punya tapi mau memberi. Ia
relah memberikan apa yang dipunyai, tidak menunggu ia harus punya dompet tebal.
Kita diingatkan dengan paradoks
orang Kristen yang mau memberi .
(2 Korintus 6;10) “Sebagai orang berduka,namun
senantiasa bersuka cita; sebagai orang miskin,namun memperkayah banyak orang;
sebagai orang tidak bermilik, sekali pun kami memiliki segala sesuatu.”
Bentuk pemberian-tidak harus materi.
Dalam kaonteks
kekinian apakah pemberian itu harus materi?
Bukan ! semua bentuk pemberian itu punya nilai yang tidak kalah
dengan materi. Kita bisa memberikan dalam wujud tenaga, kita bisa memberikan waktu, memberikan
perhatian. Saya ambil contoh mengunjungi
jemaat sakit. Kita sudah menyisihkan
waktu dan zona nyaman kita untuk mengunjungi orang yang sedang tidak beruntung.
Dengan dikunjungi baik si sakit maupun keluarga si sakit akan merasa bahagia
karena kita telah menyisihkan perhatian dan waktu kita buat mereka. Seringkali
perhatian ini nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. JIka kita juga
memberikan dana bantuan-diakonia-itu bersifat menggenapi.
Perspektif Sektor V
Saya bersyukur menyampaikan firman pada kesempatan ini, pada saat panitia natal sektor kita
tengah dalam tahapan mempersiapkan
segala yang diperlukan. Saya tahu sangat
melelahkan. Pekerjaan ini butuh komitmen ,ketulusan dan kerelaan multi dimensi.
Bukan dimensi materi saja, namun juga dimensi lain-lainnya termasuk dimensi
perasaan. Lihatlah upaya panitia dalam segala hal, rapat, mencari dana,
berkomunikasi, mengecek lapangan. Belum lagi nanti selesai kegiatan anda tuntut
membuat laporan.Itu semua bukan pekerjaan main-main. Anda pernah bayangkan,
berapa yang harus kita keluarkan andai kegiatan ini kita serahkan ke event
organizer ? Kita yang tinggal duduk manis tolong hargailah.
Kenapa saya harus menyampaikan ini?
JIka kita menganalisa
dengan pisau analisa SWOT, Sektor V potensinya besar baik dari aspek jumlah jemaat ( 90 KK) maupun kualitas.
Namun disana juga ada potensi disharmonis . Kapan potensi disharmonis ini muncul? Kalau kita salah urus. Salah urus bisa dari
sisi menejerial maupun salah sikap. Kalau kita salah bersikap; salah merespon, terpeleset
berucap dsb jemaat bisa bubar. Dalam jemaat di mana pun –lebih lebih yang
jumlahnya sebanyak ini tentu saja karakternya- bermacam-macam. Salah satu kunci
yang penting dalam hidup bersekutu agar
disharmonis tidak terjadi adalah jangan menonjolkan kepentingan pribadi. Karena begitu orang
tersinggung dengan cara dan gaya kita
tidak usah menunggu lama,jemaat itu akan hilang dari peredaran.
Dalam konteks panitia yang sedang tidak main-main mempersiapkan kegiatan ini ,
sikap apa yang paling baik kita tunjukan? Apa sikap yang penting aku seneng?
Yang penting jangan ganggu zona nyamanku?
Yang baik adalah marilah kita menunjukan sikap mendukung dalam berbagai
hal yang diperlukan panitia. Jika kita punya materi seberapa relamu berikanlah
materi itu, jika tidak punya materi berikan sikap yang mendukung . Contoh sikap
mendukung sikap yang semeleh-percaya berserah dan ikuti. Bukan sikap yang nyinyir di belakang bahkan
menjadi bibit bibit memboikot kegiatan. Sisihkan dulu kepentingan pribadi kita,
korbankan dulu zona nyaman kita. Minimal sampai kegiatan ini terlaksana . Lepas itu terserah
kita mau apa.
Panitia sudah memberi –mana respon kita agar tercipta keseimbangan.
Kita punya materi tapi
kita tidak punya waktu, urusan terlalu
banyak, sementara ada hal lain di antara kita yang harus diurus hingga tuntas.
Maka ketika ada orang atau sekelompok orang yang rela menyisihkan waktu
dirinya, yang relah menanggalkan zona nyamannya, perhatian dan kemampuannya
demi menyelesaikan urusan kita bersama
itu, kita –kita yang sibuk seharusnya berterimakasih kepada mereka. Siapa pun yang mencurahkan perhatian dan waktunya ini baik perorangan atau kumpulan beberapa orang, baik individu,kelompok,panitia atau
organisasi apa pun yang telah memberi manfaat kepada kepentingan bersama- Sudah
selayaknya kita memberi respon yang baik
dan mendukung, sebagai ungkapan trimakasih.
Sangat naïf kalau
sampai ada yang beranggapan mereka punya
motif, punya pamrih. Wallahualam. Yang pasti kita merasakan
bahwa kehadiran mereka telah banyak membantu kepentingan sektor kita. Panitai
Natal itu membantu,nggak? Kalau tidak
buat apa kita bentuk?
Bukan masalah punya dan tidak punya .
Saya heran kalau seseorang dalam kondisi kekurangan, malah dijadikan alasan untuk tidak turut mengambil
bagian dalam kegiatan ini. Natal sebagai
representasi pengucapan syukur atas
kelahiranNya Dia yang telah memberi kasih karunia dan jalan keselamatan. Anugerah keselamatan yg kita trima sudah sedemikian
besar,namun kenapa kita tidak ambil bagian dalam mensyukuri anugerah yang sudah kita trima? Jadi bukan
persoalan kau punya dan kau tidak punya. Kau punya pun tidak menjamin bahwa kau
akan rela memberikan kontribusimu , perhatianmu kalau kau masih memikirkan zona
nyamanmu. Paling gampang memikirkan kebutuhan diri sendiri dan keluarga.
Tapi untuk kebutuhan orang lain bahkan
yang sama-sama bekerja di ladang
Tuhan:belum tentu.
Kiranya pengajaran
Paulus tentang kerelaan dalam memberi yang dilandasi kasih karunia Tuhan menyadarkan
kita semua bahwa memberi dalam berbagai bentuk
sangat kita perlukan. Tuhan memberkati
kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar